> Catatan Perjalanan Untari

Friday, February 9, 2018

February 09, 2018

Watu Gunung Kolam Renang Bernuansa Alam


Halo teman-teman traveler apa kabarnya nih. 2018 sudah kemana aja? Liburan ke pantai atau gunung? Kalo ada duitnya sih pengen plesiran yang jauh-jauh ya, misalnya ke Paris, Dubai atau Venesia. Duuh ngimpi boleh dong siapa tau suatu saat kesampaian.

Tapi kalo rejekinya plesiran di deket-deket rumah juga gapapalah. Sebenernya kalau mau dijelajahin wisata di daerah kita juga pasti ada yang bagus kok. Kaya saya nih pas main ke Watu Gunung di Ungaran beberapa waktu lalu.
Watu Gunung yang dalam bahasa Indonesia berarti batu gunung itu sebenarnya adalah kolam renang buatan yang dibangun dari batu-batu alami sedemikian rupa hingga penampakannya mirip kolam renang alam.


Lokasi Watu Gunung juga ga jauh dari Ungaran kota kok. Jadi buat yang pengen kesana jangan khawatir akses jalannya bakal sulit. Pokoknya tinggal buka Google Maps, sudah pasti akurat karena sudah banyak yang menyambanginya.

Atau kalau bawa hape tapi ga ada kuota internet, arahkan saja kendaraan ke alun-alun Ungaran, dari sana cuma berjarak beberapa ratus meter. Ada penandanya sih, tapi kalau mau lebih mantap tanya aja sama penduduk lokal.

Watu Gunung ini rame banget terlebih saat akhir pekan dan masa liburan sekolah. Pas saya kesana kebetulan di hari Minggu dan ya bener aja sampai kami kesulitan cari parkir.

Begitu masuk lokasi pun terlihat banyak sekali orang yang membawa keluarganya untuk liburan di sana. Kolam yang ada beberapa buah pun semuanya penuh sesak. Udah kaya cendol gitu lah.


Hawa di Watu Gunung cukup sejuk karena airnya juga dari pegunungan, tapi karena rame kami ga merasakan kedinginan waktu berendam di dalamnya. Justru merasa lebih maknyes air pancuran untuk membilas tubuh yang ada di di belakang kamar mandi umum.

Kalau ada yang belum pernah ke Watu Gunung, untari travel notes kasih saran ya, sebisa mungkin hindari liburan panjang atau akhir pekan. Kalau nekat ya harus rela berdesakan sama bapak-bapak atau ibu-ibu yang nemenin anaknya berenang, atau kena sundul bocah yang lagi latihan meluncur. Eh tapi siapa tau yang jomblo ketemu jomblo trus tuker-tukeran nomer hape #uhuk.


Soal makanan di Watu Gunung juga ada resto dan bisa pesan makanan berat atau camilan, tapi soal rasa, bisa dibilang seadanya sih. Kemaren saya beli mie goreng sama mendoan tapi mendoannya kurang mantap.

Tapi apapun review untari travel notes ga usah kebanyakan mikir kalau mau ke Watu Gunung. Bisa jadi penilaian kamu berbeda dengan yang ditulis di blog ini. Btw nanti cerita-cerita ya di kolom komentar.

Wednesday, February 7, 2018

February 07, 2018

Wisata Foto di Taman Srigunting Kota Lama Semarang


properti becak di taman srigunting
Taman Srigunting - Taman yang ada di area kota lama Semarang ini sekarang jadi salah satu tempat hits yang digandrungi masyarakat buat poto-poto. Kalau dulu orang tidak tertarik untuk duduk lama atau sekadar singgah di taman Srigunting. Tapi beberapa tahun belakangan, taman ini tak cuma makin bersih dan rapi, tapi ada pula ornamen becak dan sepeda jadul yang bisa digunakan sebagai pemanis foto selfie, soal kontribusi pun suka-suka pengunjung mau masukkin uang berapa ke kotak. Sehingga kini bukan hanya mampir, banyak orang yang malah betah berlama-lama. Bahkan temu komunitas pun sudah sering diadakan di taman yang satu ini.
mejeng dulu ah
Untari travel notes juga sudah beberapa kali nongkrong cantik di taman Srigunting ini. Seperti juga para dedek gemes yang tampil maksimal untuk dapet foto yang ciamik, saya pun ga mau kalah eksis dong, cekrek aplot-cekrek aplot, halah.

Di taman Srigunting ada beberapa spot favorit, selain di atas becak atau sepeda yang dihias unyu-unyu, biasanya pengunjung juga ambil posisi di tangga yang mengarah ke gereja Blenduk. Nah ini kadang agak susah, karena kalo angle dan jamnya ga pas, maka foto yang dihasilkan akan kena backlight.

juga digunakan sebagai titik kumpul walking tour

foto rame-rame dengan background gereja blenduk
Kalau sudah merasa bosan di taman Srigunting, jangan buru-buru pulang. Karena kita bisa geser bodi dikit aja dan melihat berbagai macam barang jadul dan antik di tenda-tenda yang dipasang di sebelah taman ini. Dinamai pasar klithikan, tempat ini adalah surga buat kolektor barang kuno. Soal harga katanya sih ga ada patokan, karena dilihat dulu dari kondisi barang tersebut, bisa jadi murah atau malah lebih mahal dari barang yang sama fungsinya di masa kini.

salah satu isi barang dagangan di pasar klithikan
Oiya, kalau ada yang kelaparan pas nongkrong di taman Srigunting jangan khawatir, karena sekarang sudah banyak cafe, rumah makan, penjual makanan dan sebuah minimarket di sekitarnya. Atau kalo bawa makanan sendiri pun ga dilarang untuk buka bekal dan menikmatinya di sini. Tapi jangan lupa ya, jangan buang sampah sembarangan. Traveler yang baik hanya meninggalkan jejak kaki bukannya sampah!

Friday, February 2, 2018

February 02, 2018

Pagi di Alun-Alun Brebes dan Alun-Alun Tegal

Di Minggu pagi itu, mobil sudah meluncur ke alun-alun Brebes, kami berharap bisa ke warung langganan untuk menikmati nasi lengko. Tapi begitu sampai lokasi, ternyata warungnya belum buka 😭.

Ya kami memang kepagian, berangkat dari Semarang saat masih gelap dan jalanan juga ga terlalu ramai. Akhirnya sampai di Brebes pun masih sekitar pukul 7. Tapi matahari udah hot potatoes alias panas kentang-kentang 😁.
Penjual nasi lengko di depan Masjid Agung Brebes

Tak mau berlalu begitu saja, kami putuskan untuk duduk-duduk di alun-alunnya. Baru saja memarkirkan mobil dan akan berjalan ke tengah alun-alun, saya berteriak ke mas bojo 'Ayah, itu loh ada yang jual nasi lengko'. Ternyata di sekitar alun-alun ada gerobak-gerobak sederhana yang menjual kuliner khas kota ini.


kiri: nasi ponggol - kanan:nasi lengko

Kami pun menghampiri dagangannya, kemudian duduk di klasa *tikar, yang sebenarnya merampas sedikit hak pejalan kaki karena digelar di area pedestrian alun-alun. Pada si ibu penjual nasi, yang kelihatannya warga lokal berlogat ngapak khas pantura kami pun memesan sepiring nasi ponggol dan nasi lengko.

Sekadar informasi, nasi lengko adalah menu sarapan pagi yang terdiri dari nasi, ketimun, tahu, tauge, emping, sambal kacang dan kecap. Ya tentunya bisa dimodifikasi dikit, karena emping cukup mahal, kadang penjual menggantinya dengan krupuk yang harganya lebih murah.

Kalau nasi ponggol, sebenarnya hanya nasi putih yang diberi topping orek tempe alias tempe tumis bercitarasa pedas. Tapi biar ga begitu aja bisa ditambah lauk tahu, telur dan ikan asin. Soal rasa ya namanya nasi ya begitulah. Buat saya sih spesial banget juga engga, nasi lengkonya mirip tahu telor blora tapi versi bumbu kacang minimalis. Kalau untuk nasi ponggol, seandainya ikan asinnya lebih banyak mungkin lebih terasa nikmat. Tapi buat mas bojo yang pernah hidup di Brebes, wisata kuliner ini sembari memancing nostagia masa kecilnya.

kereta mini melintas di depan Masjid Agung Brebes
Sambil sarapan, mata saya tertuju pada masjid megah di depan. Inilah dia Masjid Agung Brebes. Yang dari wikipedia infonya merupakan masjid tertua, meski dipugar dan diperbaiki beberapa kali tapi bagian depan dan bentuk asli joglo dan kubah limas masjid masih terus dipertahankan.
Ini apa ya kok mindul lupa
Selesai sarapan dan lari-lari joget india di alun-alun Brebes, kami pun pindah ke alun-alun Tegal. Kan mumpung deket inih. Dan pengen liat apa sih perbedaannya.

Masjid Agung Kota Tegal

Aito naik scooter
Sebagai kota yang lebih besar dari Brebes, sudah tentu alun-alunnya pun lebih luas dan lebih ramai dari Brebes. Kalau di Brebes di tengah alun-alun ngga ada apa-apa alias hanya tanah kosong, maka sangat berbeda di Tegal, di bagian tengah alun-alun ada hiburan khususnya untuk anak-anak. Seperti kolam pancing ikan mainan, penyewaan motor trail mini dan motor/mobil aki buat anak-anak.

Pagi itu pun ada beberapa anak muda yang latihan skateboard di pinggir alun-alun. Padahal sudah disediakan area khusus tapi kayaknya gara-gara makin panas mereka pun melipir.

Oh ya, buat yang belum pernah coba tahu gejrot, kuliner Cirebon dari tahu yang diberi kuah pedas asam manis itu, maka di sinilah tempat yang tepat buat menikmatinya (kalau ga bisa ke Cirebon). Kita bisa menemukan penjual tahu gejrot yang masih memakai pikulan di seputaran area alun-alun dan cara menghidangkannya pun masih tradisional yaitu dengan piring tanah liat.

Itulah sedikit cerita kami saat pagi hingga menjelang siang di alun-alun Brebes dan Tegal. Apakah kamu juga punya cerita saat singgah di sana? Berbagi yuk di kolom komentar

Saturday, January 27, 2018

January 27, 2018

Review Hotel Plaza Tegal

Tegal sebagai kota di jalur Utara pulau Jawa sebenarnya sangat ramai. Apalagi banyak industri dan tempat wisata yang potensial. Tapi kok sayangnya agak susah ya cari low budget hotel. Sementara budget kami buat menginap memang ga pernah lebih dari 400ribu per malam, apalagi tujuannya bukan buat wisata hotel, tapi menjemput mama dari suami yang transit di Tegal setelah berlibur dari Jakarta.

Tapi namanya rejeki emang bener sering dateng dari arah tak disangka-sangka. Pas butuh banget penginapan di Tegal pada akhir tahun 2017 kami nemu juga yang cocok dari aplikasi Airy Rooms. Ehya tulisan ini bukan sponsored post atau endorse lho ya. Murni cerita pengalaman pribadi aja.
 
situasi di kamar mandi tipe shower

ranjang tipe double twin
 
pemandangan dari kamar hotel ke Rita Supermall

Hotel yang diberi nama Plaza Hotel ini terletak di jalan Jl. DR. Wahidin Sudirohusodo No.2, Pesurungan Kidul, Tegal Barat. Letaknya ada di kanan jalan kalau kita berjalan ke arah Brebes.

Kamar kami kemarin tipe standar twin ada di lantai 3 dan menghadap ke sungai di sebelah hotel dan juga ke arah pusat perbelanjaan Rita Supermal. Untunglah sungainya cukup bersih, kalopun ada sampah cuma beberapa, jadi ga bikin illfeel pas buka korden jendela.


Fasilitas Plaza Hotel yang dipesan via Airy Rooms tentunya standar aja ya sodara-sodara, memasuki kamar yang dihias biru-biru khas Airy ada pula amenities kamar mandi, 2 handuk bersih dan snack yang boxnya ga boleh dibawa pulang. Memang ini box bikin gemes banget. Tapi karena ada tulisan 'silahkan diambil snacknya, tinggalkan kotaknya untuk tamu selanjutnya' ya mindul jadi pasrah deh. Oiya kalo nyari teko pemanas buat bikin teh, kopi atau seduh mie instan kemaren ga ada sih. Justru kalo kulkas kecil biar air minum kita jadi nyes malah ada. Membantu banget loh ya di udara Tegal yang panasnya ajegile.


Kebetulan mindul sama keluarga kemaren nginep pas malam taun baru, jadi bisa liat kembang api yang diluncurin dari Rita Park dan beberapa tempat di sekitar hotel. Tapi ya sebentar banget sih, belum jam 00.40 suasana udah sepi banget lagi. Lah emangnya ngerayain taun baru mau berapa lama yak? Hehehe.

Sarapan di Plaza Hotel jangan ngarepin mewah ya, meski yang disajikan kuliner indonesia dan terbatas tapi lumayan enak kok. Kemaren mindul ambil opor ayam sama sambel goreng kentang, minumnya teh sama disediain juga buah segar meski cuma pepaya sama semangka.

Oiya, kalo bawa anak atau jumlah orang yang ikut ke ruangan sarapan lebih dari 2 padahal cuman book 1 kamar, si petugas bakal nanyain apakah anak akan ambil makan sendiri. Kayaknya bakal dicharge lagi sih. Tapi karena mindul dan Aito biasa barengan 1 piring sambil curi-curi pandang ya tentu ga nambah lagi. Anak-anak kalo pagi napsu makannya kan masih begitulah. Sayang kalo bayar lagi tapi ga dimakan. Mubazir tho.

Jadi untuk semalam di Tegal dengan 1 kamar standar twin with breakfast Plaza Hotel Airy Rooms dan ga lebih dari 300ribu ya alhamdulillah cukup memuaskan.

Semoga review ini membantu ^_^

Friday, January 26, 2018

January 26, 2018

All U Can Eat Cascade International Restaurant Gumaya Hotel

blogger Semarang di Cascade Gumaya atas undangan Gumaya dan Titik Tengah Partnership
Ada kalanya kita bingung mau makan apa. Ditanya yayang, mo makan apa? Jawabnya terserah. Tapi pas dia yang nentuin, ceweknya ngambek. Pernah gitu? Pasti jawabnya iya. *ini nanya apa curhat sih? Puk puk pak suami.

Urusan makan emang bisa jadi simple bisa juga ribet. Masalahnya kepengennya kan beda-beda gitu. Satunya pingin makan pasta, eh satunya minta korean food, nahlooo

Tapi di Cascade Gumaya, semua itu bisa diatasi, asal bawa duit 159.000 per orang ya, hehe. Karena tiap jumat dan sabtu restoran internasional yang ada di Gumaya Tower Hotel ini menyediakan menu All U Can Eat alias makan sepuasnya.

Mindul (admin gendul) alhamdulillah nih uda pernah cobain AUCEnya Cascade Resto beberapa waktu lalu. Di hari sabtu malem itu mindul dan temen blogger Semarang berkesempatan dinner di Cascade atas undangan Gumaya dan Titik Tengah Partnership.


Dari ruangan besar di lantai dasar yang diberi nama Cascade International Restaurant ini ada stall dan stand yang menggiurkan banget buat pecinta kuliner. Para koki ganteng juga bersiap di balik meja untuk melayani keinginan para tamu.

Sebenernya kalau kamu bingung sebelum ke Cascade, bisa jadi di sini malah tambah bingung, lhawong saking banyaknya. Mindul ceritain sebagian ya. Sebut saja pengen masakan italia, tinggal mendekat ke area pasta, kamu bisa milih mau makaroni, spaghetti, penne atau fetuccini yang diolah dengan beragam saus pilihanmu, pake carbonara, bolognaise atau alfredo. 



Uda ngicipin Italian foodnya bisa pindah ke Korean & Japanese Food, selain ada toppoki dan sushi, kita bisa minta semangkok gyudon, sabu-sabu, sichuan hotpot atau ramen yang kuahnya hangat karena disiram langsung dari panci, duh nikmat banget dah!

Selain itu masih banyak juga hidangan yang ga kalah yummy, buat pecinta daging entah sapi, domba, bebek atau ayam misalnya. Cobain deh beef shank, hongkong style roast duck, short rib bbq sauce, creamy chicken kiev, atau beef wellington yang empuk.

Udah kenyang? Duh masih ada banyak hidangan lainnya yang juga ga kalah endeznya. Mindul sampai lupa namanya apa aja. Tapi kalo mau udahan bisa ambil pencuci mulut di pojokan. Di area itu ada choco fountain yang bisa dicolek pake buah-buahan atau marshmellow empuk dan juga ada eskrim lembut merk diamond yang bisa minta ambilin sama mba cantik.


Kalau diliat dari harga awalnya 159.000/orang kayaknya cukup wow yah. Tapi mindul belum nulis semua makanan yang ada di sana lho, jadi lebih baik kamu dateng sendiri. Nah kalau sudah muterin semua stall yang ada dan sudah ngicipi satu persatu mesti kamu bakal setuju, its million worth than ever! Apalagi Gumaya adalah hotel bintang lima terbaik di Semarang.

Inget ya, kalau All U Can Eat Cascade Gumaya Tower Hotel cuma buka di malam jumat dan sabtu dari pukul 6 sore sampai 11 malam. Biar ga rugi, kosongkan dulu perut kamu sebelum kemari ya 😁

Thursday, January 25, 2018

January 25, 2018

GiggleBox Village Semarang Kulineran Serasa di Pedesaan Eropa


Ada yang baru di jalan Kompol Maksum Semarang. Tepatnya di nomor 219, ada cafe baru yang pasti bikin betah anak muda dan anak tua karena dekorasinya yang cantik dan unik.

GiggleBox Village, itulah sebutannya. Gigglebox yang sebelumnya membuka 3 gerai di Semarang dengan tema fairy princess kali ini membuka cafe ke-4 dengan tema sedikit berbeda.
Perbedaan mencolok pertama adalah pada konsep cafe yang semi outdoor. Di bagian dalam GiggleBox Village ini pengunjung bisa duduk dan bersantap dengan dikelilingi dekorasi replika toko-toko dan nuansa Eropa pada masa klasik, yang buat saya mirip nuansa film cinderella atau pinokio.

Duduk di area ini ga sah kalo diem aja. Pengunjung yang kemaren datang bersamaan dengan saya pun semuanya sibuk foto-foto. Mejeng di depan toko, jepret. Nempel di tiang lampu jepret. Nyengir rame-rame, jepret.


Perbedaan kedua adalah menu brunch yang hanya bisa dipesan pada jam 7-11 pagi. Karena ini menu untuk sela-sela sarapan dan makan siang ya tentunya cukup ringan. Pas lah kalo buat yang lagi pada diet. Harganya pun terbilang terjangkau, yaitu dari 25-45ribu rupiah per porsinya.

Selain ruang outdoor yang menggoda karena background pedesaan Eropanya tapi lebih baik dihindari saat matahari masih terik, buat yang bawa anak dan keluarga bisa memilih ruangan indoor di GiggleBox Village karena lebih tenang dan dilengkapi ac.

Di ruang indoor pun GiggleBox Village tetap bisa buat foto-foto, karena pernak-pernik citarasa Eropa seperti jam dinding, patung, piring-piring dan lukisan yang ada di sana juga sangat instagrammble.

Kalau buat cewek-cewek pecinta kisah puteri di negeri dongeng, kayaknya GiggleBox VIllage ini pas banget tuk merayakan ultah atau bridal shower. Atau buat rapat dan meeting kecil-kecilan karena kapasitas ruangan yang disediakan hanya untuk maksimal 12 orang.

Jadi kamu penasaran gimana lucunya makan di Semarang tapi feelnya brasa di pedesaan Eropa? Cuzz deh ke GiggleBox Village Kompol Maksum 219 Semarang.