Pengalaman Ke Telaga Sarangan Pertama Kali


"Bunda, siap-siap ya, setelah Ayah resmi resign, kita mbolang ke Telaga Sarangan", itulah yang dikatakan suami kepadaku saat ia sedang mempersiapkan pengunduran dirinya dari sebuah perusahaan swasta tempatnya bekerja 3 tahun ini.

Bukan pertama kalinya suamiku pindah dari tempat bekerjanya. Kalau ga salah ini sudah yang ketiga kalinya. Dan kalau mengingat petuah entah dari siapa, 'selalu ada 3 hal yang tidak akan serasi dalam pekerjaan kita: gaji, atasan, dan teman-teman'. Ku rasa ini tepat seratus persen, karena soal bayaran dan teman-teman tak ada masalah bagi suamiku, tapi ia tampaknya tak cocok pada bosnya. Dan sebagai istri, segala upaya dukungan sudah kukerahkan agar ia mempertimbangkan keputusannya. Namun ketika sudah 'ketok palu', akupun harus tetap mendukungnya.

Hidup di kota besar memang impian banyak orang. Tapi tidak semua orang juga sih. Suamiku salah satu yang pengen pindah ke pinggiran kota atau kota kecil. Tapi karena satu dan lain hal ya kami ga bisa kemana-mana dari Semarang. Paling ya kalau ada waktu dan budget plesiran baru deh kami 'minggat' dari kota Lunpia ini.
---
Kendaraan kami melaju cepat berpindah perbatasan Jawa Tengah ke Jawa Timur. Thanks to peta virtual meski ini pertama kalinya kami ga menemui kesulitan sampai ke tujuan. Tantangan kami waktu itu hanyalah hujan, yang menjadikan belokan-belokan jalan serasa makin mengerikan dan udara dingin menyusup ke kulit membuat perut mudah meronta.

pemandangan dari mobil (dokumentasi pribadi)
Kami pun memutuskan berhenti sejenak di sebuah rumah makan yang pemiliknya menyapa hangat. Mengisi perut kelaparan dengan semangkok makanan berkuah dan teh panas. Untungnya saja kami berhenti karena hujan makin deras dan kabut sementara tambah pekat. Di sebelah rumah makan kami pun membeli persediaan cemilan dan sarung tangan serta topi yang tidak sempat dibeli sebelum berangkat.

Setelah hujan mereda, kami kembali melanjutkan perjalanan yang ternyata sedikit lagi sampai. Tak kurang dari 10 menit, gapura-gapura bertuliskan Sarangan sudah menyambut kami. Ternyata sebelum memasuki lokasi kami harus menebus tiket sebesar 8500 untuk dewasa dan 6500 bagi pengunjung anak-anak. Cukup terjangkau lah ya, Tapi menurut detik.com sayangnya per Januari 2018 harga tiket masuk ini naik 150%: untuk dewasa menjadi 20ribu dan anak 15rb.

Hotel Merah 1

 

Hotel Merah 1, itulah penginapan yang sedari awal sudah suamiku pilih. Alasannya karena hotel ini terletak di depan Telaga Sarangan. Waktu itu kami datang bukan di musim liburan, jadi hotel sedang sepi tamu, bahkan cuma ada kami sekeluarga yang menginap. Karena sepi pula kami dapat kamar di lantai dasar dengan harga kamar lantai atas. Wah, rejeki suami soleh bin sayang keluarga nih, hihi 😇. Sembari check in dan mengangkut barang bawaan kami juga disuguhi welcome drink berupa teh dan kopi sachetan yang bisa diseduh sendiri. Karena udara di Sarangan sangat dingin jangan sekali-kali menyeduh minuman lalu dibiarkan saja meski 5 menit ya. Bisa-bisa gagal deh acara minum teh hangat, nanti malah gelas jadi berisi teh adem. Hoho....

Menjelajah Telaga Sarangan

Malam di penginapan dilewati dengan tidak sukses. meski sebelum tidur kami sudah membalut tubuh dengan berbagai macam pakaian tapi rupanya tubuh masih tetap kedinginan. Otakku berpikir "seharusnya checkout Uniqlo heattech dulu sebelum kesini" 😓.



Esok paginya, dimotivasi udara dingin pula kami buru-buru menggerakan tubuh, berjalan-jalan di pasar dan sekitar Telaga Sarangan yang indah, membeli beberapa kuliner khas lokal dan juga naik kuda. Nah pengalaman naik kuda ini juga yang pertama bagi aku dan anakku. Ternyata menyenangkan sekaligus menyeramkan karena kudanya terasa tinggi sekali jadi aku takut jatuh. Hahaha.

Tapi sungguh pengalaman ke Telaga Sarangan pertama kali ini sangat mengesankan. Semoga bisa kesana lagi..tentunya setelah membeli beberapa pakaian heattech supaya ga ada lagi acara menggigil di sana 😂.


Post a Comment for "Pengalaman Ke Telaga Sarangan Pertama Kali"