Nongkrong Etnik di Wedangan Pendopo Solo


Di keheningan malam kala itu, Solo sedang hujan rintik-rintik. Penginapan yang kami tempati sebenarnya tak seberapa besar, tapi sudah dilengkapi air conditioner. Hembusan anginnya ditambah suara hujan di luar rasanya menambah kesenduan malam. Dan tiba-tiba, sebuah bunyi aneh terdengar "GRUWEEEK".

Daripada terganggu bunyi aneh itu, aku, suamiku dan anakku pun keluar kamar. Dan tak disadari ternyata roda mobil membawa kami ke sebuah tempat yang tak kalah 'seram'.


Hwahaha, intronya kok kaya cerita horor ya. Tapi emang sih, suara perut kelaparan tuh bagaikan kisah mistis, apalagi kalau 1 jam yang lalu sudah makan besar. Eh kok ga lama kemudian cacing-cacing meronta minta makan lagi. Tuh kan horor banget.

Kelaparan di atas jam 9 malam selama di Solo, kami ga pernah khawatir karena meski kota ini terasa lebih kecil dari Semarang tapi kalau mau berburu, sejatinya ada banyak kuliner legendaris yang patut dicoba. Dan kali ini kami mampir ke Wedangan Pendopo.

Lokasi Wedangan Pendopo



Jika di Semarang dan Jogja, kuliner nasi kucing disebut ANGKRINGAN, maka di Solo lazimnya dinamakan HIK atau WEDANGAN.

Menunya ya kurang lebih sama aja. Ada gorengan, berbagai sate-satean, aneka minuman dan tentu saja snack rakyat. Tapi meski mirip-mirip, menikmati makanan di tempat yang berbeda akan menghasilkan sensasi yang berbeda pula, termasuk di Wedangan Pendopo ini.


Biasanya kan kalau makan nasi di angkringan kita tinggal milih tuh mau makan apa karena udah dibungkusin. Nah kalau di Wedangan Pendopo kita kudu mesen dulu sama simbah yang meracik atau sama mba kasir juga bisa. Agak lupa sih ada apa aja di sana, tapi salah satunya ada sego orak arik tempe dan sego gudeg dengan iwak asin yang terlihat sederhana tapi membuat liur menetes.



Untuk menghangatkan perut, malam itu kami memesan nasi pindang sambel dan wedang tape hangat. Tak lupa cemilannya sate bakso, sate keong, sosis solo, tahu goreng dan yang paling spesial: jadah atau gemblong bakar.

Menikmati jadah hangat yang baru saja 'dientas' dari pembakaran arang rasanya kok nikmat banget ya. Sembari mulut mengunyah, saya juga menikmati dekorasi dan ornamen di Wedangan Pendopo.

Ada aneka topeng dan patung, klonengan sapi, toples, ceret dan berbagai ornamen lawas memenuhi berbagai sudut Wedangan Pendopo. Bentuknya unik-unik dan warnanya dominan gelap. Makanya agak-agak merinding di sini, tapi ga lantas bikin kami ngibrit. Apalagi malam itu suasana cukup ramai dengan pengunjung yang kelihatannya masih muda. Rupanya cuma kami yang datang bersama anak-anak karena memang sudah cukup malam.

Dari kursi yang saya duduki, terlihat beberapa foto pemilik Wedangan Pendopo bersama selebritas dan tokoh terkenal negri ini, dan tentu saja ada foto Pak Jokowi beserta ibu Iriana juga di sana, apalagi keduanya kan memang dari kota Solo.

Dan dari foto-foto itu saya bisa tahu kalau angkringan ini sudah cukup lama berdiri namun tetap mempertahankan nilai kekhasan-nya. Ga heran tetap eksis meski digempur gelombang kuliner impor yang menyerbu negara ini.

Wedangan Pendopo buka dari jam 18.00 hingga tengah malam. Dan menyoal harga, saya kira sangat terjangkau. Cocok lah kalau dijadikan tempat buat ngobrol ngalor-ngidul sama keluarga atau gebetan #eh.

1 Komentar untuk "Nongkrong Etnik di Wedangan Pendopo Solo"

  1. Mbak, Hik itu dari solo. Bukan jogja. Kalau jogja dan semarang lebih dikenal dengan angkringan. Kadang di semarang ada yang menyebut dengan kucingan. Menunya hampir sama semua.

    Sekarang angkringan dikemas dengan lebih modern, tapi menu tetap seperti angkringan pada umumnya. Mungkin pengunjunganya biar lebih nyaman ketika makan di sana :D

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel