Mencicipi Keunikan Sate Klathak Pak Pong di Bantul Jogja


Sate Klathak Pak Pong, pasti udah banyak yang pernah dengar kuliner daging kambing yang satu ini kan.

Ya sate ini emang sering nongol di televisi, atau di kanal youtube para food vlogger.

Katanya sih unik dan enak. Apa bener yah?

 Saya mampir ke sini di waktu sore hari dan saat itu sih ga rame. Entah karena udah lewat jam makan siang atau karena tempat duduk pelanggannya cukup banyak.

Dan saking banyaknya pilihan ruang tempat duduk (ga ngerti totalnya ada berapa cuman agak mencar), kami sempat kesulitan memanggil pencatat order.

Kami pun akhirnya berhasil pesan setelah ada serombongan pelanggan datang dan ikut memesan. Dan setelah gontok-gontokan rembugan dengan pak suami, saya putuskan memesan seporsi sate klathak, seporsi gule, 1 teh hangat, 1 es teh dan tak lupa 2 piring nasi putih supaya kenyang.



Voila.....
Agak kaget juga ketika sate klathak terhidang di meja. Ternyata dalam 1 piringnya cuma berisi 2 tusuk doang ya 😁. Dan beneran daging kambing mudanya ditusuk besi yang bentukannya mirip ruji sepeda motor. Tapi katanya ruji ini memang khusus dibuat untuk bakar sate karena sudah ikonik. Jadi bukan ambil dari ruji motor bekas ya, hohoho.

Meski begitu per satu tusuk, isi daging kambingnya memang lebih banyak dan potongannya lebih besar dari sate kambing biasa. Baca-baca di google, sate klathak tidak diberi kecap saat pembakarannya. namun cuma ditaburi garam dan merica halus. Kemudian penyajiannya dengan semacam kuah kuning agak berminyak.

Next adalah gule. Ini juga bikin ternganga. Biasanya kan yang namanya gule isiannya daging dan jeroan kambing yang sudah dipotong-potong sedemikian rupa. Trus mereka berenang dalam kuah gule yang agak banyak.

Eh rupanya yang datang sama sekali ga ada kuahnya. Dah gitu bukan potongan daging tapi semacam balung dinosaurus kambing yang masi berbentuk guedi-guedi banget, hehehe. Seriously, i'm shock.

Tapi ga adil dong kalau menilai sesuatu dari penampakannya doang. Kok malah body shaming ke sate dan gule, ya ga, hahahaha.

Setelah diicip, baik sate klathak dan gule Pak Pong ga buruk kok. Sate daging yang ga dibumbui saat dibakar sebenarnya tetap terasa nikmat. Malahan citarasa asli daging kambing muda bisa lebih kentara.

Untuk gulenya, saat dinikmati menurut saya agak mirip tongseng. Berminyak, ada rasa kecapnya dan bau rempahnya cukup menyengat, lumayan enak tapi kurang asin sih. Ya maklum lidah anak pantai selatan emang suka yang asin-asin.

Setelah kenyang makan sate klathak dan gule, penutupnya adalah minum teh poci hangat. Ini juga ga ngira bakalan dapat teh hangat dalam bentuk 1 gelas plus 1 poci penuh. Karena sayang dibuang, akhirnya ku minum sampai habis. Akhirnya kembung deh perutku, wkwkwk.

Bagi teman-teman yang main ke Imogiri, Bantul saya sih tetap menyarankan mampir ke sate klathak Pak Pong tanpa terpengaruh review di blog ini. Kan soal rasa tiap orang bisa beda pendapat, iya ga?


SATE KLATHAK PAK PONG

Jl. Sultan Agung No.18, Jejeran II, Wonokromo, Kec. Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

1 comment for "Mencicipi Keunikan Sate Klathak Pak Pong di Bantul Jogja"

  1. Cuman ngeliat dari gambar sepintas aja udah bikin ngiler, kebayang dong kalau ngincip langsung di tempatnya huehehe

    ReplyDelete

Post a Comment