Blusukan ke Pasar Gede Hardjonagoro Solo - Catatan Perjalanan Untari

Tuesday, January 2, 2018

Blusukan ke Pasar Gede Hardjonagoro Solo

Pasar ini letaknya deket banget sama Timlo Sastro Solo jadi kalau habis sarapan timlo sempetin lah jalan-jalan, atau kalau mau jadi destinasi awal trus kelaperan ya bisa banget setelahnya mampir ke Timlo Sastro.

Seperti di liburan natal kemarin yang tanggal merahnya lumayan asik. Meski beberapa kali ke Solo kami ga pernah mengagendakan masuk ke pasar. Tapi mungkin suamiku sedikit banyak terinspirasi ide blusukannya Pak Jokowi yang kebetulan asalnya dari Solo juga, dan akhirnya masukin Pasar Gede Hardjonagoro ke dalam to do list saat sudah di sana.

Pasar tertua yang masih mempertahankan sebagian besar bentuk aslinya meski pernah terbakar di tahun 2000 ini secara umum menjual kebutuhan pangan masyarakat. Meski ada juga satu-dua penjual pakaian tapi yang saya amati kebanyakan dagangan yang digelar adalah bahan makanan, masakan matang dan makanan kering. Eh iya, kalau cari talenan atau cobek juga banyak lho di Pasar Gede.

Masakan yang dijajakan bukan sembarang masakan pastinya, tapi panganan yang khas dari Solo punya. Sebut saja intip kerak nasi, cabuk rambak, brambang asem, dawet selasih, lenjongan, grontol, jadah blondo, sate kere, atau buat yang non muslim bisa dengan mudah menemukan penjual babi kuah atau babi panggang 🐖 oink-oink. Loh jangan kaget ya karena emang nama Hardjonegoro berasal dari nama seorang keturunan Tionghoa yang diberi gelar KRT HArdjonegoro dari Keraton Solo. Makanya di dekat Pasar Gede juga ada klenteng dan pedagang dari berbagai etnis terutama jawa dan cina bisa berbaur dengan harmonis di sini, keren kan!

Sayangnya saya ga menyicipi satupun kuliner khas Pasar Gede, selain antrian yang lumayan banyak, juga karena perut masih penuh nasi timlo. Akhirnya saya pun hanya cuci mata dan malah belanja piring rotan 2 buah @3000 dan pete  5 papan dengan harga 20 ribu rupiah * ya elah jauh-jauh malah beli pete.


Pasar Gede ini sangat menarik dan harus masuk itinerary kalau ada kesempatan lagi ke Solo. Dan lain kali ga boleh lupa bawa masker buat anakku, Aito yang selalu pencet hidung kebauan aroma ayam potong, tahu mentah dan bau khas pasar yang sebenernya di hidung emaknya sangat nikmat.

6 comments:

  1. Oh penjual oink-oinknya berada dalam satu lokasi?

    Kalau di Balikpapan, di pasar tradisional, tak ada jual oink-oink :).

    Tempatnya khusus dan tersendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba banyak yang sebelahan dan harus melotot spy ga kecelik

      Delete
  2. menarik ya, mbak kalau ke suatu daerah kita mengunjungi pasar tradisionalnya. jadi lebih tahu kehidupan di kota tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jujur saya jg baru merasakan bedanya wisata pasar di solo. Tempat laij perlu dicoba nih

      Delete
  3. Kenangan banget sama Pasar Gedhe. Saya selalu mau pingsan kalo masuk pasar batik, karena banyaknya motif, mata saya berkunang-kunang Mbak Untari hehehhe. Empat tahun sering ke Solo, skrg Adek saya sudah lulus. Kangeenn Solo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mba sampe mo pingsan ya. Memang motif batik kadang bikin pusing ya. Hehe

      Delete