Ada Apa di Sondokoro?



Masih di karesidenan kota budaya Solo atau Surakarta. Di luar sana matahari terasa terik dan cuaca bikin keringat gemrobyos membasahi kulit. Tapi liburan rasanya pantang dilewatkan begitu saja di hotel. Ah ac dan ranjang empuk memang begitu menggoda.


Mobil kami lalu meluncur ke daerah Tasikmadu, kabupaten Karanganyar. Setelah parkir, kami melihat di depan gerbang yang tampak pudar itu ada beberapa penjual jajanan dan mainan anak menggelar dagangannya. Mereka seperti tidak antusias berdagang. Entah apakah cuaca ini membuat semua orang jadi enggan bergerak.

Dibandingkan wahana permainan moderen di Semarang, tiket masuk wisata Sondokoro terbilang murah, hanya sebesar 5000 rupiah per orang dan senangnya lagi, Aito ga masuk hitungan. Jadi hanya saya dan pak Suami yang kena charge. Selembar 10 ribu pun berpindah tangan.



Agrowisata Sondokoro, begitu tulisan yang terpatri di lokasi. Saat memasukinya pengunjung bisa jadi disambut kereta api berwarna hijau (mirip Percy di Thomas and Friends) yang akan berangkat mengelilingi perkebunan tebu Sondokoro. Nah inilah yang namanya kereta uap, persis gambar ilustrasi di buku panduan alat transportasi untuk anak-anak, berbentuk kotak, dengan cerobong dan mengeluarkan asap. 


Tapi saat kami datang kereta sudah sesak penumpang, jadi kami langkahkan kaki lebih jauh sambil mencari tahu ada apa saja di Sondokoro.


foodcourt di Sondokoro
kincir Sondokoro

Agrowisata Sondokoro dahulu merupakan bekas pabrik gula dan mulai dibangun menjadi agrowisata pada tahun 2005, kemudian tahun 2006 mulai beroperasi. Sondokoro sendiri identik dengan Pabrik Gula Tasikmadu yang dirintis KGPAA Mangkunegoro VI di mana sebelumnya ia mendirikan Pabrik Gula Colomadu pada tahun 1961.

Dengan luasnya Sondokoro ada banyak arena bermain anak tersedia, sebut saja berbagai macam kedalaman kolam dan wahana air, flying fox, kolam bola, perahu ayun, kincir, motor listrik dan masih banyak lagi.


Aito yang sedari masuk sebenarnya mengantuk begitu melihat warna-warni aneka wahana bermain malah jadi segar lagi. Dan ia pun memilih bermain air di kolam setinggi betis orang dewasa. Karena terlihat cetek dan anak-anak lain dibiarkan main sendirian, maka kami pun ga menemani, tapi tetap mengawasi dari dekat. Dan setelah puas kecibang-kecibung, pengunjung bisa membilas tubuh di kamar mandi yang disediakan.


Banyak lokomotif tua yang jadi pajangan




Sebenarnya Sondokoro adalah tempat rekreasi yang bisa menampung banyak wisatawan, tapi dari kesan kami kemarin, area yang sangat luas tersebut rasanya kurang dimaksimalkan. Entah karena sudah cukup lama beroperasi, beberapa wahana dan fasilitas yang disediakan nampak kurang terawat. Belum lagi kebiasaan orang Indonesia yang sering membuang sampah sembarangan. Meski sebenarnya enggan tapi karena merasa lapar, kami pun terpaksa makan di meja-meja foodcourt yang jauh dari bersih dan sampah berserakan di atas juga di bawah meja. Yo wis bismillah semoga ga kenapa-kenapa.

Tapi bagaimanapun juga Sondokoro adalah tempat wisata bagi masyarakat yang perlu dilestarikan. Kalau bisa ya ditingkatkan supaya makin nyaman.

Buat yang penasaran ingin ke Sondokoro, selain tarif karcis masuk Rp. 5000, ada biaya lagi ya kalau mau bermain di wahana yang disediakan. Nah, berikut ini listnya:
- Arena berenang Rp.7.000
- Motor Listrik Rp 5.000
- Spoor Teboe Rp 8.000
- Spoor Gula Rp 6.000
- Spoor Sakarosa Rp 8.000
- Flying Fox Rp 7.000
- Jemb. Gantung Rp 5.000
- Taman Air Rp 5.000
- Dunia Kreasi Rp 5.000
- Agro Sehat Rp 7.000
- Air Cerdas Rp 5.000
- Sacchacinema Rp 6.000
- Spoor Classic Rp 6.000
- Perahu Ayun Rp 6.000
- Kincir Rp 6.000
- Wisata Pb.Gula Rp.12.000

1 Response to "Ada Apa di Sondokoro?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel